tvmiranda.com, Jumat, 08 Mei 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hang Tuah Pekanbaru [BEM UHTP] menyelenggarakan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi bagi seluruh mahasiswa Universitas Hang Tuah Pekanbaru.
Kegiatan yang semula direncanakan di lapangan kampus ini dipindahkan ke luar area kampus. Hal ini disebabkan pengajuan peminjaman fasilitas kampus yang masuk secara dadakan sehingga tidak mendapatkan izin penyelenggaraan.
Presiden Mahasiswa BEM UHTP, Syahradi Ramatul, dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk menyikapi film dengan kritis dan bijak.
“Papua bukan tanah kosong, itu adalah rumah, identitas, warisan budaya leluhur mereka. Harapan saya, kawan-kawan mahasiswa cukup berpikir radikal tanpa harus bertindak radikalisme,” ujar Syahradi.
Melalui dokumenter ini, penonton diajak melihat upaya masyarakat adat mempertahankan tanah leluhur, hutan, dan identitas budaya di tengah arus pembangunan besar-besaran.
Kasus Pesta Babi menunjukkan bahwa film dokumenter kini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang mampu memantik diskusi publik.
Kontroversi pembubaran nobar di sejumlah kampus menandakan bahwa isu Papua masih menjadi topik sensitif di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah mendorong pembangunan dan investasi nasional. Di sisi lain, muncul kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, hutan adat, dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal.
Ironisnya, pembubaran nobar justru membuat Pesta Babi semakin viral dan memicu rasa penasaran publik terhadap isi film tersebut.




